Feeds:
Posts
Comments

Ingatan pekat yang tak lekang

Terpaksa terdorong lari lintang pukang

Saat tempatnya yang teguh dalam korteks

Menemukan pengganti superior secara konteks

 

Tak ayal ku merasa, jika semesta dalam jiwa adalah pesta dansa, maka kamu adalah primadona.

Ini bukan obituari. Ini bukan serenada selamat tinggal. Ini hanyalah penanda pergantian babak dalam sebuah drama.

Saat Pandji Pragiwaksono melemparkan idenya untuk membuat acara televisi bertemakan edukasi politik, saya sontak berpikir, “hell yeah”. Selain siaran sepakbola, praktis saya tak pernah menonton acara televisi Indonesia. Soal kualitas, anda bisa menilai sendiri, tapi tak satu pun yang menggerakkan keinginan saya untuk duduk terpaku di depan layar datar. Tak pernah terbersit sekali pun cita-cita untuk membuat karya yang berhubungan dengan televisi.

Yang menyebabkan saya menyambut hangat ide Pandji adalah semangat dan tema dari program TV yang sedang digagas ini. Jika Pandji datang dengan ide membuat acara komedi semata atau acara program musik pagi, sudah pasti gagasan itu akan saya tampik.

Saya tak tertarik dengan televisi meski sadar bahwa wilayah jangkauan televisi sebagai media massa relatif lebih besar dibanding media lainnya. Pendidikan politik menjadi concern saya dan saat televisi bisa dipakai sebagai saluran penyampaian ide, termasuk dengan segala keterbatasan dan banalitasnya, maka saya mengangguk setuju.

Program TV kami itu, Provocative Proactive, menyasar audiens berusia muda, sama seperti usia rata-rata anggota tim kami. Mengapa kami berpikir bahwa anak muda Indonesia pada umumnya membutuhkan pendidikan politik? Karena mayoritas dari kita dididik untuk apatis terhadap politik.

Kita dibesarkan dalam sebuah struktur di mana ketidaktahuan adalah keniscayaan. Kita dianjurkan menelan semua tanpa protes dan semakin dikit yang dipertanyakan semakin bagus. Kita dikondisikan menjadi penonton dalam sebuah teater negara di mana penonton tak bisa meminta uangnya kembali jika para pelakon bermain buruk.

Kami menolak.

Tapi kami hanya serpihan kecil dari anak muda Indonesia yang begitu banyak sehingga kami berasa bertanggungjawab untuk membangunkan rekan-rekan kami yang tertidur. Saya sadar bahwa tim kami memiliki privilege berupa terpaan media dan akses terhadap informasi yang lebih sehingga untuk menyamaratakan semua golongan anak muda sungguh tidak adil. Berangkat dari keinginan untuk berbagi itulah Provocative Proactive bergerak.

Selama 1,5 tahun program ini berjalan, masukan yang paling sering saya terima, terutama dari teman-teman yang tergolong cendekiawan, adalah betapa rendahnya tingkat kedalaman informasi dan analisa yang kami berikan, sesuatu yang tak terbantahkan. Tapi satu hal yang sering luput dari perhatian adalah betapa program ini memang diposisikan sebagai sarana pendidikan politik elementer bagi mereka yang awam sama sekali tentang politik.

Mustahil untuk mencekoki penonton televisi dengan berbagai materi politik mendalam saat mereka bahkan tidak tahu Marzuki Alie itu siapa, atau menyajikan analisa mendalam soal berbagai program legislasi DPR saat mayoritas audiens bahkan tidak ingat siapa yang mereka pilih saat Pemilu kemarin.

Dengan segala hormat bagi teman-teman cendekiawan, Provocative Proactive memang terlalu cetek untuk menjadi santapan. Kalian membaca berbagai literatur politik kelas berat, punya akses terhadap jurnal-jurnal ilmiah, dan terhubung ke berbagai saluran informasi tanpa batas. Kalian tak butuh program TV untuk memberitahu apa yang sedang terjadi di negara ini J

Tapi bayangkanlah mereka yang saluran informasi primernya adalah televisi, yang tak seberuntung itu untuk bisa mendapatkan berbagai pengayaan informasi dari sumber-sumber yang lebih mendalam. Dan jumlah mereka lebih banyak. Itulah kalangan yang ingin kami sasar.

Kami tak ingin hidup dalam menara gading, masturbasi intelektualitas setiap hari sembari menutup mata terhadap tingkat kesadaran orang-orang di sekitar. Jika kita hendak bangkit, maka kita bangkit bersama.

Objektivitas program kami kerap dipertanyakan dan biarkan saya menegaskan kali ini bahwa kami 100 % subjektif dengan agenda pendidikan yang kami usung sendiri. Meski pun begitu, program kami tidak berafiliasi pada partai dan organisasi politik mana pun, tak juga kepada lembaga politik yang identik dengan stasiun televisi tempat kami bernaung.

Kami tidak netral karena kami berpihak pada kebenaran. Mudah-mudahan apa yang menjadi acuan kebenaran bagi kami selama ini juga konsensus kebenaran yang sama bagi kebanyakan orang.

Provocative Proactive mungkin akan berhenti sebagai sebuah program TV, tapi saya meyakinkan anda bahwa ini bukan terakhir kali anda mendengar sesuautu dari kami. Provocative Proactive bukan program TV semata, ini adalah sebuah gerakan kesadaran politik. Jika TV tak lagi menjadi medium penyampaian gagasan kami, maka kami akan menemukan medium lainnya.

Untuk orang-orang yang dengannya saya bekerja keras bahu membahu dalam Provocative Proactive TV show dalam 1,5 tahun terakhir, perkenankanlah saya memberikan salam hormat bagi kawan sekalian:

Pandji Pragiwaksono, Joshua Matulessy, Ronal Surapradja, Raditya Dika, Andari Agustien, Andibachtiar Yusuf, Naufal Fileindi, Iman Sjafei, Shani Budi Pandita, Khamila Sari Mulia, Aira Syafei, Farah Nurul, Dhita Larasati, Luthfian Iriana, Syaza Luthfani Udyaputri, Disna Harvens, Muhajjir Esyaputra, Esha Mahendra, Choky Ramadhan, Larasati Septani.

Kami tak akan berhenti.

On Bar Jokes

Presumptuous Gita Wirjawan acrimoniously saunters into an improvident tavern. Just to brag about my TOEFL

————————————-

I’m good, eh?

What’s the point of celebrating New Year’s eve? I thought I knew, but apparently I don’t.

It’s not my birthday nor my graduation day. I wouldn’t be so daft picking January 1 as my future wedding date. The World Cup final will never be held in the first day of the year. It’s not even the day when your favourite international musicians perform in town – unless your favourite international musicians are Keith Martin or Christian Bautista.

So what the hell are we celebrating?

The anniversary of the only empirically-proven liveable planet in our solar system? Maybe. But surely it has nothing to do with what is going on inside most of the youth: where shall I get extremely wasted before the sun of the 2012 rises in the east?

One can accuse me of being pathetically bitter because ive never had a great New Year’s eve. Matter of fact, two of the last three NYEs were the highlights of my life. Last year NYE was a no-go because it was Friday night. The thing is, those two NYEs were off the hook, immense to the extent of it could shake Hiroshima for the second time, it got me thinking that repeating such feats will be nothing but unnecessary.

I don’t get New Year’s eve party. My friends have been raving about getting boozed and dancing till dawn and it makes me confused. I can get boozed and dance week in and week out, why getting boozed and dancing on New Year’s eve is more special?

No matter where you go, there will be a pesky announcer that will tell you how far it is from 12 o’clock. The announcer will tell the audience every an hour mark and will get down to minute mark when the time is near. Then the crowd will join in a mass New Year countdown and screaming “Happy New Year” followed by deafening noise of paper horns which I believe sound more like vuvuzelas these days. People will be united in harmony and collective happiness, it’s like a cult of Doomsday Church or Motivational Seminar-gone-wrong.

Three years ago I was enjoying the NYE on the lobby of a shopping mall which is now known for any event organizer as a bargain venue for all occasion. There were standing this bunch of males whom I had been paying attention to because they made crazy noises of their own. Like they wanted to attract public attention towards them. I could see they thought they’re cool and appealing to ladies, when in reality they looked like countryside bullies who went to some never-heard-of private school in West Jakarta. Right after the giant digital clock hit 00.00 which was accompanied by cheap celebration music, those hobos started to jumped and screamed towards each other. “It’s New Year, bro! It’s New Year! Aaaaarrrggghhhh!!! It’s New Year, bro!” for 2-3 minutes.

I didn’t like what I see and there was a slight drive within myself to punch them one by one, hoping they could come with a logical explanation of why they have to jump and scream like a caveman. They’re just being happy, so I was told, like every living soul that participate in celebrating the dawn of new year. Really.

Does new year make you happy? Because for me, it doesn’t. Not that I hate new year – I like the idea of growth and development, two things whose indicators can be easily seen annually, hence the turn of the year is essentially exciting – but to labour all the joy in one particular night is beyond my understanding. You have 365 days ahead and you decide to begin the cruise with Borgian antics. Fantastic.

I once dreamed of a wild, Charlie Sheen-esque NYE celebration and there I had it. It was great of course, but I woke up gutted the following morning. It’s not “what have I done?” gutted, more like “what the hell was that?” gutted. Pointless and hollow. The hangover was heavy nonetheless, like having Emile Heskey throning at your head, but I could get really drunk on any other day just like that day.

Realising that your involvement in New Year’s debauchery was actually caused by an utter need to be on-par with your surroundings rather than your own will to be jovial is an eye-opener like cataract surgery.

Having said that, maybe this year is different. What if the Mayans were right or some time in mid-year, Kim Jung Un deliberately triggers the nuclear head because he hates his haircut? It will make this New Year’s eve our last.

Still, it doesn’t make New Year’s eve less overrated than before.

Aku selalu punya waktu untuk sabda dari api

yang membakar Sapardi sebelum ia sempat mengucapkan kata yang membuatnya menjadi penyair,

atau petuah dari air

yang menenggelamkan Barbarossa sebelum sempat ia mengangkat pedang yang membuatnya menjadi penakluk.

 

Tapi janganlah berlalu sabda itu daripadaku

karena hanya kerumunan burung kondor yang terbang berputar

di atas kepala yang akan kutemui sesudahnya

 

Mendadak ruang dan waktu memindahkan jasadku yang belum mati ke tengah pasir daga

Aku berteriak tapi tak ada yang mendengar

Aku adalah suara yang berseru-seru di padang gurun

tanpa siapa pun yang kepadanya harus kupersiapkan jalan.

Oase adalah ilusi dan pasir daga adalah teman sejauh mata memandang.

 

Aku berharap akan karavan yang mampir

di mana aku bisa menumpang hingga perhentian terdekat.

Begitu putus asa, bahkan aku akan mengangkat orang Moor pertama yang kulihat

sebagai saudara,

tetapi pasir daga tetap teman sejauh mata memandang.

 

Katakan pada Marquez

bahwa seribu tahun kesunyian ini lebih buruk dari percintaan stensil di masa kolera.

Katakan pada Dante

bahwa ia bukan satu-satunya yang pernah mengunjungi Inferno dan Purgatorio.

Aku baru saja sampai tadi siang dan tak bisa pulang.

 

 

Sama seperti Soulnation edisi-edisi terdahulu, akan ada satu penampil yang akan membuat gue, Irfan, Andre, dan Quatromatic standby di depan panggung jauh sebelum pertunjukan dimulai. Pada Soulnation edisi perdana, Blackalicious yang menyebabkan kami berbuat demikian diikuti dengan DMC di tahun berikutnya. Tahun lalu tidak ada yang cukup menyenangkan, tapi tahun ini kami sudah mempersiapkan diri untuk pengalaman sensasional bersama Public Enemy.

Ketika pintu venue menuju area indoor Istora Senayan dibuka, kami segera berlarian menuju depan panggung sambil berteriak “naik haji hiphop!”. Kami berbaris sejajar sembari memeluk pagar pembatas agar tempat kami di depan tak tergoyahkan. Ini Public Enemy, grup hiphop paling berpengaruh dalam sejarah musik ini, yang pertama kali dengan tegas meneriakkan bahwa ini adalah perlawanan politik terhadap tekanan kekuasaan. Gue tak ingin kehilangan momen satu detik pun.

Public Enemy adalah sebuah grup hebat sampai-sampai crew mereka pun cukup untuk memanaskan suasana dengan berulang kali berinteraksi dengan penonton. Dari mulai prosedur standar seperti “yeahh!” dan “hell yeah!”, yang agak lucu seperti “aiiighttt?”, sampai koor dadakan lagu KRS-One ketika teriakan “whoooop..whooop” gue timpali dengan “that’s the sound of the police!” yang langsung disambar oleh para penonton di bagian depan. Pertunjukan bahkan sudah dimulai sebelum Public Enemy muncul di panggung.

Lalu tibalah awal dari segala kedahsyatan malam itu. Satu per satu anggota band naik ke panggung dan mengepalkan tangan ke udara dibarengi dengan bunyi sirene yang meraung-raung. DJ Lord naik ke belakang meja turntablenya dengan scarf menutupi wajahnya. Black Salute. Ini lebih mirip pembukaan rapat akbar Black Panther dibanding konser musik.

S1W lalu melakukan koreografi militer dan bumi Istora Senayan seperti terhentak ketika Chuck D dan Flava Flav muncul membawakan lagu pertamanya. Mereka berdua menegaskan bahwa penonton yang membayar tiket untuk menonton malam itu tak akan rugi karena mereka akan memberikan penampilan yang spektakuler.

Pernyataan tersebut sama sekali tidak bohong karena dari penampilan yang dijadwalkan hanya 75 menit, mereka bermain hampir 2 jam, dan selama itu pula gue melompat-lompat sambil menggoyang-goyang pagar pembatas yang sempat membuat sekuriti khawatir. Gue merasa subversif malam itu.

Semua lagu gacoan mereka mainkan malam itu, dari mulai Bring Tha Noise, Dont Believe The Hype, sampai Fight The Power yang dijadikan penutup. Tidak perlu gue ceritakan lagi bagaimana kehebatan Chuck D dalam mengolah mikrofon dan fantastisnya Flava Flav, hypeman terhebat dalam sejarah hiphop, untuk merasuki penonton.

Yang lebih memuaskan lagi, gue seperti mendapat extra show Public Enemy featuring Homicide di hampir semua lagu karena Ucok aka Morgue Vanguard berteriak bersama pas di telinga gue sambil lompat-lompat ke depan dan menunjuk-nunjuk ke panggung. Berulang kali ia menabrak orang-orang di depannya dibarengi dengan semburan saliva tak sengaja yang gue nikmati dengan antusias.

Tidak hanya muatan politis liris yang membuat mereka besar, Public Enemy juga seorang penampil yang memukau. Mereka memberi berbagai pertunjukan tambahan seperti ketika DJ Lord pamer kebolehan dengan beat juggling lagu Smells Like Teen Spirit-nya Nirvana. Juga ketika mereka mengajak Abigail untuk naik ke panggung di sela-sela lagu Dont Believe The Hype.

Tapi pertunjukan ekstra yang paling seru adalah ketika Chuck D mengajak 4 penonton untuk naik ke panggung dan freestyle diiring oleh Flava Flav yang menggebuk drum. Ucok tadinya tidak mau naik ke panggung tapi setelah didorong dan setengah dipaksa oleh teman-teman sekalian, akhirnya ia naik ke panggung bersama 3 penonton lainnya

Tiga emcee yang lain melakukan tugasnya dengan baik, merapalkan rima seturut dengan beat yang dimainkan Flava Flav, tapi Ucok benar-benar membawa sesi tersebut setingkat lebih tinggi ketika ia mengajak penonton berteriak bersama “Fuck The Police!” sesuai dengan t-shirt NWA yang ia pakai. Bahkan Chuck D pun nyengir menyaksikan pemandangan itu.

Fight The Power adalah lagu pamungkas yang dibawakan malam itu di mana tinju-tinju terkepal untuk terakhir kalinya, tetapi pertunjukan belum selesai karena Flava Flav memanggil 2 Liaison Officer mereka dan berterima kasih di depan penonton atas bantuannya selama di Jakarta. Ini adalah pertama kali saya melihat artis memanggil LO-nya di penghujung acara.

Flava Flav lalu menutup malam itu dengan orasi politik soal rasisme dan separatisme setelah sebelumnya Chuck D menyinggung soal Troy Davis yang baru dieksekusi mati minggu lalu dan hukum imigrasi Arizona yang rasis, sekaligus menyerukan “Power to the Indonesian people!”

Malam yang luar biasa, pengalaman yang tak terlupakan.

Sekarang, siapa yang mau bawa KRS-One ke Indonesia……

Bloon Politikon

Forenote: Tulisan ini tidak diperuntukkan bagi mereka yang berhati lemah, over-sensitive, dan menulis dengan hUruF B3s4r kEc1L. Anda sudah diperingatkan.

Anda kerap menjilat pantat teman/kenalan/kolega/saudara terlebih bila mereka menjilat pantat anda terlebih dahulu. Begitulah aturan baku yang sudah dirajah diam-diam di jidat semua orang. I scratch your back, you scratch mine, saya rasa terlalu halus. I lick your ass, you lick mine. That’s how you people roll.

Semua orang hanya ingin terlihat baik dan menyenangkan jika orang lain berbuat sesuatu yang baik dan menyenangkan bagi mereka. Segala norma sopan santun yang menjadi alasan utama untuk berinteraksi sebagai orang yang beradab hanya selimut penutup yang mencegah warna asli berpendar dari kulit anda.

Jika saya berpapasan dengan seorang teman dan saya tidak menyapanya, maka kancing yang akan disematkan ke baju saya adalah sombong. Menurut konsensus tata krama sosial, jika saya berpapasan dengan seseorang yang saya kenal tapi tidak menegur, saya tergolong tidak beretika.

Saya tidak terbiasa menyapa orang yang dengannya saya tidak berkepentingan. Arti dari tidak berkepentingan di sini adalah saya sedang tidak berada dalam situasi partikular yang mengharuskan saya mengikutsertakan dia dalam kerangka aktivitas yang sedang saya lakukan saat itu. Kenapa? Karena hal itu membuang waktu dan tidak efisien. Jika saya harus menyapa semua orang yang saya kenal, maka hidup saya akan terbuang sia-sia dengan melontarkan salam-salam omong kosong kepada handai taulan.

Alasan lain adalah saya terlalu sering melihat bahwa tidak adanya ketulusan dalam bertegur sapa. Formalitas, keterpaksaan, sebuah prosedur standar yang harus dipatuhi untuk mendapatkan status sebagai manusia beradab (dan terpandang secara sosial, seberapa besar atau kecil pun skalanya). Motif orang dalam bertegur sapa bervariasi. Saya tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi orang yang tulus tanpa pretensi, tapi saya yakin batang-batang statistik dalam kepala menunjukkan persentase orang munafik lebih besar dari yang tidak.

Impresi yang saya dapatkan setelah mengamati tindak-tanduk orang adalah kita bertegur-sapa untuk menunjukkan tanda apresiasi, bahwa kita masih mengingat seseorang, dan keinginan untuk tetap berada dalam term ”baik-baik saja” dengan orang tersebut. Jadi, jikalau sekiranya nanti anda mempunyai kebutuhan yang memerlukan orang tersebut di dalamnya, anda akan datang dengan bekal ”term baik-baik saja” yang dipupuk dengan rentetan tegur-sapa selama ini dengan wajah memelas welas asih yang disamarkan sedemikian rupa.

Jika kebetulan anda mempunyai orang tua yang memiliki kedudukan atau strata cukup secara sosial, maka anda akan mendapati orang lain akan lebih sukarela menjilati pantat anda. Jilat pantat involunter. Benefit yang didapatkan tidak kontan, tapi lebih seperti tabungan berjangka, anda mengharapkan petikan hasil di masa depan.

Tidak, saya bukan orang yang sering dijilati karena orang tua dan saya juga tidak menjadikan orang tua sebagai garda depan bemper kehidupan sosial (anda tahu, semacam anak-anak terpandang kedudukannya karena mendompleng aset orang tuanya, entah status atau uangnya), tapi apa yang terlihat dalam pandangan mata lebih dari cukup untuk menggerakan jemari saya.

Memang, reputasi ataupun mamon yang diemban seseorang karena orang tua adalah sebuah keuntungan hereditas eksklusif yang tak bisa diganggu-gugat. Serupa bila anda mendapatkannya berkat kerja tangan anda dan kuras keringat sendiri.

Tapi hal tersebut adalah lempengan magnet luar biasa untuk menarik orang bermanis muka dan tingkah laku di hadapan anda. Karena mereka ingin dianggap baik. Karena mereka ingin menguangkan (tidak harafiah, tapi sepertinya bisa juga diartikan demikian) danareksa moral yang sudah ditanamkan sebelumnya.

Saya tidak akan pernah marah dan melabelinya sombong bila seseorang yang saya kenal lewat di depan mata tanpa menegur, sama seperti saya tidak mengharapkan mereka untuk marah bila saya berlaku demikian dan nyatanya saya memang demikian.

Hmmm…..Kelihatannya model interaksi sosial berbasis tabur-dan-tuai lebih masuk akal bila ditempatkan negatif.

ps: Anda sudah diperingatkan.

Starstruck

It’s like seeing all the Greek Gods came alive out of the mythology. I could barely believe my eyes, and worse, i didnt even know what the fuck am i doing there. This lad who basically hasnt achieved anything compared to these intellectuals was standing in front of his heroes, ushering them through the commemoration of one of the greatest human rights activist this country has ever had.

I dont know what your idea of being starstruck, but i have a defintion of my own. Ive stood beside several top-notch musicians, well-known actors, and once saw a gorgeous actress changing clothes before my eyes, but it’s all nothing compared to standing in front of these giants.

The event wasnt even started yet when the first goosebump brizzling my neck. I was sitting on one table, unceasingly glancing at the rundown, hoping it could ease the rambling whirlwind inside my head. On the next table, there were a group of old ladies in kebaya. They might be old, but they looked sharp. It turned out that they’re former political prisoners from the 1965 incident. Yes, they were members of the much-maligned Gerwani which had been demonised by the New Order regime.

One of them came to my table and offered a rengginang. I wasnt hungry and i dont even like rengginang, but hell, it was one hell of a privilege! So i took it and have it digested. It’s like being offered a Cabernet Sauvignon by Eric Cantona who made all the fuss to get to your table. No, it’s even better because Cantona doesnt have to survive prison and years of false accusations.

I was Charlie and i found myself in a Chocolate Factory. You know it’s overwhelming when your go-to guy is Usman Hamid and the likes of Asvi Warman Adam and Mochtar Pabotinggi was roaming around. You know it’s mentally unbearable when Mugiyanto giving affirmative nod to your closing discourse on human rights. “To continue Munir’s fight for human rights..” Who the hell do i think i am? You know it’s too much when they, virtually the hall-of-famers of socio-politic movements, had to listen to this young snob who spends more time tweeting than interacting with the oppressed.

I tried to cheer myself up after it ended. I told myself that i should put aside the unnecessary ill-conceived feeling and take honour on participating in this homage. Just when i started to relax and leave it behind, i saw the twitpic of Usman Hamid being strangled by the police. They’re out there, rallying for justice in front of the presidential palace, while i was in the comfort of air conditioner and all that luxury.

It made me feel this big –> .

 

 

 

 

 

Provocative Proactive, sebuah acara talkshow politik untuk anak muda yang tayang di Metro TV tiap Kamis pukul 21.30, sedang mencari tenaga baru untuk mengisi posisi Research Officer dalam tim kreatif kami.

Research Officer? Ngapain tuh kerjanya?

Research officer bertugas untuk menyediakan data dan informasi yang dibutuhkan sesuai dengan topik setiap minggunya. Karena tema utama Provocative Proactive adalah politik, maka informasi yang dibutuhkan umumnya soal dinamika politik di Indonesia. Penggalian data dan informasi bisa dilakukan lewat analisa media massa, riset buku dan literatur, wawancara dengan narasumber yang kompeten, dan berbagai sumber yang dapat memenuhi kebutuhan informasi.

Orang yang dicari yang kayak gimana?

Kami mencari anak muda yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya dari latar belakang disiplin ilmu apa pun yang tidak hanya mengikuti perkembangan politik Indonesia, tapi antusias membicarakan politik dengan level antusiasme yang sama dengan ibu-ibu arisan membicarakan artis sinetron yang baru bercerai. Kami mencari anak muda yang bergairah terhadap dinamika politik Indonesia, yang akan menyimak komentar Sutan Bathoegana dan pernyataan Priyo Budi Santoso dengan penuh perhatian. Kami mencari anak muda yang paham seluk-beluk dan isi dapur politik tanah air. Jika anda bisa menjelaskan mengapa Tragedi 27 Juli tidak dibereskan saat Megawati jadi presiden, mengapa banyak Pilkada berakhir ricuh, atau bagaimana sistem kaderisasi PKS, mungkin anda orang yang kami cari.

Menarik, gue ingin bergabung, gimana caranya?

Silakan kirim CV anda ke provocactive[at]gmail.com. Jangan lupa tuliskan 1 paragraf mengenai kenapa anda orang yang tepat untuk mengisi posisi ini.

Email anda ditunggu sampai Kamis (4/8) pukul 12.00.

Salam,

Pangeran Siahaan

Head of Creative Department

The six pointer. Short message service had never been so significant. The long-awaited Godot and a brief stay. Midas touch and all had turned gold. El Dorado. The promised land and the ungrateful,  grumbling Israelites. Coup d’etat. Coup de grace.

I always had time for your monkey business.

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.