“Bang, saya turunin di lobby aja ya.”
“Ah, gak usah, parkir dulu aja. Nanti kita jalan sama-sama.”
Saya bersikeras untuk menurunkan Faisal Basri di lobby Hotel Pullman malam itu alih-alih memarkir mobil terlebih dahulu. Malam hari itu saya dan beberapa kawan mengantarkan Bang Faisal untuk menghadiri Indonesia Lawyers Club. Sebelumnya kami berembuk terlebih dahulu di rumah beliau mengenai materi yang akan dibawakan dalam acara tersebut. Dengan dua mobil kami berangkat. Entah apa yang saya mimpikan malam sebelumnya, Bang Faisal memilih untuk naik mobil saya yang sederhana. Sepanjang jalan saya keringat dingin.
Saya tahu figur seorang Faisal Basri, ekonom ternama, salah seorang pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) yang keluar dari partai yang ia besarkan sejak dari embrio karena berbeda visi dan misi, tapi saya tak kenal dirinya secara pribadi. Dua kali kami berjumpa sebelumnya, tapi tak sempat kami banyak berbicara. Saya hanya mengenalnya lewat koran dan majalah selama ini, sekarang ia duduk di sebelah saya yang sedang mengemudi. Saya merasa sangat terhormat dan……..keringat dingin.
Saya secara sukarela menawarkan diri kepada tim Faisal Basri-Biem Benyamin untuk membantu apa yang bisa dibantu. Saya tidak punya pengalaman politik praktis. Saya bukan konsultan politik. Saya tidak pandai berkata-kata. Tapi saya paham betul bahwa pencalonan Faisal-Biem dalam Pilkada DKI bukan pencalonan politik semata. Ini adalah gerakan warga yang mencalonkan dua orang dari mereka untuk memimpin kota-propinsi yang besar ini. Saya adalah bagian dari warga dan saya berasa berkepentingan untuk turut menyingsingkan lengan baju.
Penyesalan terbesar adalah tak bisa melakukan kontribusi langsung yang lebih daripada itu karena keterbatasan waktu akibat kesibukan di tempat lain. Maka yang bisa saya lakukan hanyalah menyebarkan awareness akan figur Faisal-Biem via media sosial dan memperkenalkan mereka berdua ke lingkungan di sekitar saya.
Saya tak akan menguraikan soal independensi Faisal-Biem dari kartel politik, anda sudah tahu. Saya tak akan menjelaskan soal program kerja mereka, anda bisa membacanya di tempat lain. Tapi saya ingin menjawab beberapa pertanyaan yang mampir di telinga yang beberapa di antaranya membuat saya takjub.
“Kepala daerah independen akan kesulitan karena tidak didukung partai politik”
Seriously, dude? Setelah selama ini kita semua sepakat bahwa sistem oligarki lewat partai politik itu busuk, sekarang alasan yang anda dikemukakan adalah calon independen tak kuat karena didukung partai politik? Segala program kerja Faisal-Biem yang bahkan diakui oleh rivalnya bagus itu harus dikesampingkan karena “tidak kuat tanpa dukungan partai politik”? Lagipula, apa jaminan bahwa kepala daerah dari partai politik tak mendapat hambatan?
“Kenapa elo gak mendukung pasangan kandidat yang seiman sama elo?”
Feckin’ ell, ini mau Pilkada, bukan mau mencari pasangan hidup. Apa hubungannya sama iman? Saya tak suka jika agama dibawa-bawa dalam politik, tidak menjernihkan pandangan sama sekali. Saya bahkan tak suka partai berbasis agama apa pun, baik yang tidak seagama dengan saya, maupun yang seagama. Jika anda tidak suka orang lain bawa-bawa agama karena berbeda dengan anda, tapi mengangguk setuju jika agamanya sama dengan anda, maka anda munafik. Plain and simple. Munafik.
“Bagus sih, tapi dia tidak berpengalaman”
Ironisnya, pernyataan di atas dilontarkan kepada saya oleh seorang kenalan yang baru saja menyelesaikan pendidikannya dan belum mendapat pekerjaan karena…..ia tidak berpengalaman. Alasan semacam ini selalu dikemukakan oleh entitas-entitas usang dan berkerak. Serius? Pengalaman? Para founding fathers republik ini pun tak punya pengalaman apa-apa saat memimpin.
“Elo dibayar berapa untuk bantuin Faisal-Biem?”
Hanya karena anda dibayar untuk kampanye politik, bukan berarti semua orang demikian.
“Anda naif sekali mendukung calon yang peluangnya menangnya kecil”
Anda pikir partisipasi politik itu sama dengan glory-hunting klub sepakbola, mendukung tim yang peluangnya paling besar untuk menang. Anda mendukung calon mana yang ingin anda lihat menang, bukan mendukung calon mana yang paling mungkin menang dengan imbalan beberapa koin perak, kecuali anda Yudas Iskariot.
“Faisal Basri itu neolib”
Tanggung amat, sekalian saja tuding antek zionis.
Aneh memang, dari semua argumen yang dilemparkan melawan Faisal-Biem, tidak ada yang menyinggung soal program kerja atau track record di masa lalu.
Saya mencoba mereka-reka kalau-kalau Faisal-Biem dibeking oleh bekas jenderal yang terkait kasus pelanggaran HAM Ternyata tidak. Saya mencoba melihat kalau-kalau Faisal-Biem awalnya tidak ingin maju ke Pilkada tapi akhirnya berubah pikiran karena ditekan oleh superior partai politiknya. Tentu saja tidak, ia saja tidak berpartai.
Saya mencoba menengok ke belakang kalau-kalau Faisal-Biem berhubungan akrab dengan organisasi massa yang tingkah lakunya tidak tersentuh hukum. Ternyata tidak. Saya mencoba melihat kalau-kalau Faisal-Biem pernah dipilih langsung oleh rakyat untuk sebuah jabatan publik dan meninggalkannya karena mengejar ambisi lain. Ternyata tidak.
Tak terbersit sedikit pun keinginan untuk mempengaruhi pikiran mereka yang membaca tulisan ini untuk mengubah pilihannya di bilik suara besok. Tulisan ini tak akan memberikan anda pengalaman Road to Damascus seperti yang dialami Saulus. Saya tahu siapa yang akan saya pilih. Bukan karena ia akan menang, tapi karena ia yang saya yakini terbaik untuk diri saya dan warga Jakarta lainnya.

mas pandji, blog yg sgt menarik.
Saya sepaham dengan visi misi serta pemikiran pasangan ini dan juga sy juga sejalan dengan motivasi mas Pandji mendukung beliau. Saya pribadi jg menjagokan si kotak2 dan pak faisal, namun saya jg harus realistis yg menuntun sy cenderung ke kotak-kotak.
Kenapa? Pertama, di dunia ini untuk menjadi sukses dan meraih prestasi yg lebih besar harus dgn proses. Saya rasa semua sepakat terhadap hukum universal ini. Ambil contoh pekerja kantoran, dari staff ke officer kemudian k ass manger, manager, sampai direksi. Atau misal footballer ky CR7. Dari junior sporting lisbon, ke reserves MU, 5 thn d senior MU, dan terakhir slh satu top skorer la liga dgn Real Madrid. Semua perlu proses.
Balik ke no 3 dan no 5, walaupun msg2 sy rasa punya spirit yg sama, tp jam terbang lebih condong ke no3. Mereka sudah punya ‘batu loncatan’ mengurus kota dan kabupaten dgn rapor biru. Sedangkan no5 mohon maaf, belum ada pengalaman sama sekali bahkan di level ‘tim junior’.
Kedua, calon No.5 ini independent. kita tahu sistim negara kita berbasis kepartaian dimana kebijakan hrs digodok via parlemen. Misal memang independent menang, saya kira mereka akan sulit menggolkan ide en pemikiran mereka di DPRD karena tidak ada dukungan partai yg membela si independent. sehingga mau tidak mau mereka berhadapan dengan lobi2 politik yg menguras tenaga dan waktu.(hujan interupsi, rapat larut malam, demo di luar karena rakyat sudah tdk sabar… dapat gambarannya kan?)
Bila mereka deadlock di sini, independent akan mencari dukungan dr luar atau komunitas pendukung mereka yg juga jadi kekuatan mereka. Sy rasa Mas Pandji juga berada di komunitas ini. Kelebihan komunitas pendukung ini jelas mereka idealis dan satu kata tanpa kepentingan apapun dalam mendukung independent, namun kelemahannya bahwa komunitas ini bukan lembaga hukum dan rentan terhadap angin opini (oleh karena itu lahir sistim partai yg merupakan lembaga hukum dan ada AD – ART untuk anggotanya)
Dari kedua alasan saya di atas, implikasinya (misal si independent menang) akan menyebabkan proses kebijakan-implimentasi-evaluasi jadi ‘telat panas’ atau ‘kalah start’. Ekstrimnya karena terlalu lama membuat kebijakan/lobi2 DPRD , maka setahun-2thn terlewat percuma hanya untuk membuat grand design (kita belum bicara implementasi dan evaluasi ya). Ditambah minimnya pengalaman mereka megang birokrasi(kota) sehingga akan kesulitan menggunakan teknik lobying yg efektif.
Sekali lg sy dukung kedua calon tsbt, tp saya jg realistis dgn melihat bibit bobot bebet. Bukan dengan modal semangat perubahan semata yg keduanya sy anggap sejalan. So, my vote goes to Kotak- kotak.
[...] Pangeran Siahaan – Tentang Mendukung Faisal-Biem di Pilkada DKI [...]
Ulasan tentang Hasil Pilkada DKI Jakarta 2012 Putaran Kedua mendatang dapat Anda lihat di situs kami. Bagi warga DKI Jakarta jangan lupa gunakan hak pilih Anda ya.