Today marked my final appearance on ESPN FC Indonesia on NET.

When i started making TV shows a few years ago, i envisioned a football talkshow on TV where the pundits can trade opinions and analysis on everything about The Beautiful Game. It’s really weird that in this football-crazed nation no such TV show existed before. I didn’t have the opportunity to realize my vision, but then came ESPN FC Indonesia.

It wasn’t an easy decision to leave because It’s been a delightful 3 months talking football and exchanging banter with my fellow commentators. I’m fully grateful for the opportunity given to me. The team working with me on NET. ranks among the best i’ve ever worked with and it’s fair to say that i’ve learned a lot during the period.

But sometimes you got to make a tough call. My professional endeavour elsewhere requires more of my time and attention that makes it impractical to divide my commitment.

I wish all the best for all my colleagues in ESPN FC Indonesia on NET.

To answer tons of question that has been flooding my Twitter feed since noon, i’m announcing that i’m joining beIN Sports Indonesia on a full-time basis starting September. I’ve been working for beIN Sports since last season as a play-by-play announcer and my capacity has been increased this season. I’ll host a couple of new shows, in addition to co-hosting the live broadcast.

To my audience and readers, thank you very much for your love and supports. You’ve been kind.


Best regards,

Pangeran Siahaan


ps: Justinus Lhaksana, dont miss me too much.

Sudah banyak alegori yang digunakan untuk menggambarkan lapangan sepakbola.

Karena ada 2 kubu yang bertempur mengalahkan satu sama lain, sebagian orang menyamakan lapangan sepakbola dengan medan perang dengan para pemain sebagai tentaranya.

Karena banyak sekali kejadian tak terduga di lapangan yang menggugah emosi penonton, sebagian yang lain menganggap bahwa lapangan sepakbola adalah panggung teater dengan para pemain sebagai aktornya.

Namun berbeda dengan anggapan umum yang ada, saya justru menganggap bahwa lapangan sepakbola sesungguhnya adalah sebuah lantai dansa tempat pesta dengan para pelatih sebagai DJ dan para pemain sebagai repertoir lagu.

Sebuah pertunjukan seni apa pun selalu mengundang sentimen dan memainkan emosi para penontonnya, tapi alih-alih memainkan emosi seperti pertunjukan drama, euforia yang didapatkan para penonton sepakbola di stadion justru lebih mirip dengan para clubbers di klub disko kenamaan.

Seorang DJ yang handal tahu bagaimana meramu set list yang digemari oleh audiens. Ia tahu bagaimana cara mengundang antusiasme dari para pedansa dan mencampuraduk emosi mereka seiring malam berjalan. Ia juga harus piawai melakukan mixing agar transisi antara lagu bisa berjalan dengan mulus.

Tak beda dengan seorang pelatih sepakbola yang handal. Ia tahu bagaimana cara menyusun strategi yang ampuh di lapangan untuk mematahkan taktik lawan. Dengan berbagai pemain bintang yang ia miliki, maka ia juga pandai-pandai dalam memilah mana pemain yang cocok bermain sebagai starter, mana yang sebagai pemain cadangan. Koordinasi lini pertahanan dan penyerangan juga di-mix dengan piawai agar transisi di lapangan berjalan dengan mulus.

Jika pelatih adalah DJ, maka pemain adalah lagu. Sama seperti DJ yang cermat dalam membaca mood para partygoers di lantai dansa, pelatih juga tahu pemain mana yang tepat untuk kondisi tertentu. Seperti halnya DJ yang tahu kapan memainkan lagu dengan BPM tinggi dan kapan harus slow down dengan lagu yang lebih soft, seorang pelatih juga tahu kapan harus memforsir pemain depan bertenaga yang terus berlari dan kapan harus memfokuskan pada gelandang bertahan untuk menjaga keseimbangan tim.

Cristiano Ronaldo dan Arjen Robben adalah lagu dengan BPM super tinggi yang akan mengobrak-abrik pertahanan lawan yang dijamin akan mengundang decak kagum dari penonton. Tapi pemain-pemain yang ekuivalen dengan lagu dansa ber-BPM rendah seperti Xabi Alonso dan Phillip Lahm juga tak bisa dikesampingkan. Keseimbangan inilah yang membuat repertoir lagu seorang DJ menjadi memikat. Keseimbangan ini jugalah yang membuat seorang pelatih sepakbola bisa membawa timnya meraih kemenangan.

Set list yang ciamik dari seorang DJ akan mengundang respon yang sama dari penonton seperti halnya strategi yang ampuh dari seorang pelatih sepakbola. Ketika gol tercipta, maka penonton akan berteriak histeris, mengangkat tangan, mengepalkan tinju, melompat, berpelukan. Sama bukan dengan respon para partygoers di lantai dansa?

Saat ini ada 4 DJ dari 4 klub yang berbeda yang sedang berebut tiket untuk tampil di partai final UEFA Champions League. Mereka adalah DJ Carlo Ancelotti (Real Madrid), DJ Josep “Pep” Guardiola (Bayern Muenchen), DJ Jose Mourinho (Chelsea), dan DJ Diego Simeone (Atletico Madrid). Mereka sedang meracik setlist yang akan membuat para penonton mengalami euforia yang luar biasa di lantai dansa berupa lapangan sepakbola.

Maka dari itu, sebuah kesamaan puitik yang terjadi ketika Heineken, sebagai sponsor resmi UEFA Champions League, mengajak 5 pemenang program #RoadToIbizaFinal dari @HeinekenID untuk menyaksikan dahsyatnya pertandingan final UEFA Champions League di ibukota pesta dunia, Ibiza, Spanyol. Kelima pemenang ini akan diajak untuk menyaksikan pertandingan final bersama 500 konsumen Heineken dari 50 negara lainnya.

Selain menyaksikan pertandingan final UEFA Champions League, para pemenang juga akan berkesempatan untuk bertemu langsung dengan para bintang sepakbola ternama, berpesta di tempat dansa terbaik di dunia, dan liburan yang terlupakan di Ibiza.

Bagaimana cara agar bisa jadi pemenang? Langsung saja ke Facebook App Heineken Road to Ibiza Final 2014 dan ikuti petunjuk di sana. Jangan lupa juga follow akun Twitter @HeinekenID

See you on the dance floor!



I was among the congregation of Djakarta Warehouse Project (DWP) last night and the 7 hours i spent among the EDM (Electronic Dance Music, for you commoners) worshippers taught me a thing or two about their gospel.

After watching various EDM high priests playing their beats, the most interesting lesson i learned is the anatomy of an EDM song.

In the same spirit of Leonardo Da Vinci when he drew that famous Vitruvian gentleman, here’s the breakdown of an EDM song based on my lager-fueled observation:

The Intro (only contains the rhythm, no bass) – This is the part where you’re supposed to scream “woooo!” with your heart out with a slight hint of shock and surprise like it’s the best tune you’ve ever heard in your life. At this stage, it might help if you look as shell-shocked as possible. Imagine you found out that John Lennon is actually still alive. Yes, that kind of shock. Dont forget to raise your hands up.

The Bass-dropping – If the intro means the song is still in infancy, once the bass gets dropped, it means the song has stepped into maturity. This is the part where the shits get real. This is the part that makes an EDM song. At this stage, the congregation will respond by moving and shaking their bodies like they suffer from epilepsy. Since EDM is an egalitarian universe, one shall not be judged by the way they dance. There’s no right and wrong dance. Just move your body, like you suffer from epilepsy.

The Interlude – This part is like a pitstop. After the heavy bassline attacks in previous stage, at this phase the bass will be taken off for a while and the congregation left with a repetitive cosmic treble sound. The interlude gives a trance-like impression and  the congregation once again will respond by raising their hands. This part feels almost similar with the intro part, but instead of looking shocked, the congregation will look relieved, as if they’re given a pardon by the supreme court from a life sentence.

The Bass-dropping (again) – Like the previous bass-dropping stage, this is the part where the congregation move their bodies epileptically. After this, usually the EDM priest will change the song.

The tune might be different, but the pattern stays the same. Repeat ad infinitum.


It was my first ever rave experience and i think it will be my last as well.

I didnt’ mind the rain, the mud, the traffic (it’s a goddamn festival, you posh Southerners, what would you expect? Go back to the comfort of Kemang and Pondok Indah), it’s  the music that i couldn’t stand. I tried to be as appreciative as possible, but it was simply something i wasn’t able to do. Even bottles of lager and a couple of vodka shots couldn’t help. A friend suggested to take pills, but despite being an ardent fan of Walter White, i dont do chemicals.

But doesnt it tell everything we have to know about this music? What kind of music that has to be enjoyed under the influence of chemical substance? Why cant the music stand for itself? EDM is a 21st century relic i couldnt fathom.

Some of my friends complained about how poorly organized this year’s DWP was. They blamed the rain, the mud, the traffic, the jammed phone reception, everything.

Another friend of mine couldnt get in because her boyfriend’s ticket hadn’t arrived until midnight because the ticket bearer was stuck in traffic. They ended up selling their tickets. This is the problem that was experienced by a lot of partygoers that made them crammed in the front of entrance gate past midnight, waiting for their friends who got their tickets to come like Mexican illegal immigrants denied entry at the border.

This is another thing that i failed to understand. I’m not a fan of EDM, but i arrived early circa 8 PM to avoid the traffic and all that. So how come the party people turned up late for an event that was supposed to be their annual D-Day? How come you turned up late for something that you really like?

I yawned a couple of minutes into Alesso’s set. It’s barely 1 AM. I decided to call it a night. I didnt bother to wait for David Guetta.

Just when i was about to leave the venue, i encountered a smaller stage that was set in some kind of a mini stadium. I entered the fray and surprisingly i found the music played in this stage much more bearable. I didnt what kind of dance music being played there. The worship leader at that stage was Seth Troxler, who looked like Ron Burgundy on crack. The crowd was also felt warmer at that stage with less look-at-me-im-hot-and-i-know-it underages in skimpy dress around. That stage was the only silverline for me.

I was relieved when i finally got out, like those party people who raised their hands during The Interlude. I didn’t regret spending dough to experience the rave, but i dont think i’m going to do it again.

When the Southerners flock to the north again next year, i’ll stay home.

If i want to dance epileptically, i’d rather watch Pikachu.

This piece of mine is published on The Jakarta Globe blog today. However, the original version understandably didnt make through the editing process. So i feel  obliged to post this uncut, R-rated version here. Cheers


Everybody should be happy receiving phone calls from old friends. This world is a cruel place to live in where people are too busy fighting over gold and glory while listening to One Direction, so when somebody whom you havent met for quite a long time spares time to give you a holler, you should be honoured. There’s somebody out there who actually thinks about your pathetic being while you’re trying to figure out the meaning of your existence behind the cubicle. You’re worthy of a phone call! Cheer up! You’re not as bad as you think you are!

Yeah, until you find out that your old friends are actually MLM (Multi-level Marketing) agents.

That’s one of the biggest bummers that could’ve happened to your social life. Finding out that your old mates are now running MLMs is similar to finding out that your extremely religious mates in high school are now party animals who have switched preferences from holy water to Chiroc. You would want to tap their shoulders and ask what has gone wrong in their life?

“Have you been reading too much Robert Kiyosaki” is my favourite question.

My second favourite question is “Do you know that Kiyosaki is now bankrupt?”.

It’s before i throw my third favourite and final question, “Do you need a hug?”

I just got back from a meeting with a friend from university. He contacted me yesterday and mentioned something about advertising and digital opportunity. As an internet warrior myself, i couldnt let something presented as “digital opportunity” pass without a look. Like an innocent kid who’s offered candies by a dodgy stranger, i said yes. I’ve been intellectually abused. I have no honour left in me.

Here’s a thing about MLM agents: they have an array of pick-up lines that would make Barney Stinson proud.

I’ve heard a lot of them, from the classic “are you tired of not making much money?”, the cliche “Dont work for money, let the money works for you”, to the outrageously pious “God wants you to be rich. Take His call and be my downline”.

I know that God works in a mysterious way, but i’m not sure He’s in the MLM business. Okay, maybe He is.

But my point is i shouldve known better dealing with sugar-coated words, especially when i get those from somebody whom i’ve never talked to in years. Truth to be told, it’s like when animals are running anxiously before a volcano erupts or earthquake happens: it’s a sign from nature that a disaster is bound to happen.

I tried to free myself from prejudice, but what i was offered didnt make any sense. The product is a digital video advertising platform and it’s kind of decent. Nothing outstanding, but it’s okay. But you know turd has got real when the product presentation switched into a typical marketing presentation scheme with typical MLM magic words like “downline”, “passive income”, and, of course, “Diamond members”. In case you’re wondering, yes, there’s a picture of yacht there.

MLM agents are always more interested in explaining the marketing scheme than the product itself. I asked more about the product, but he kept dodging the question and dragged the conversation back into the marketing scheme. He boasted about the product is one for the future but struggled to explain more about it.

It couldnt get more fishy when i was told that in order to use the platform, one should be a member and get another member to join. Then the number of your downlines will accumulate your income, and the higher you are in the marketing pyramid, the more you will earn. I’ve heard the term “tech evangelist”, but i’m pretty sure this is not what that term supposed to mean.

I asked whether i was presented with a Ponzi Scheme 2.0. He answered, “what’s that?”. I smirked.

I believe i’m not the only one with such experience. Half of you, dear readers, might’ve been offered a similar MLM scheme, while the other half might’ve been MLM agents themselves. It’s epidemic.

I have set an SOP (Standard Operating Procedure) when receiving contact from old acquiantances. Asking “This is not a covert MLM offer, is it?” beforehand will save me a lot of hustle.

I’d appreciate them even more if they bluntly said, “Hi Pangeran, let’s cut the crap, this is an MLM offer. Fancy a meeting?”

Now that’s the one for Noble peace prize.


Menyaksikan BlackBook adalah membaca lembaran sejarah hiphop di Indonesia. Tidak hanya sebagai musik, tapi juga sebagai budaya yang merasuk ke dalam sendi para pelakunya. Saya tidak pernah suka datang ke @america, tempat di mana anda harus melewati berlapis-lapis sekuriti yang membuat anda merasa sedang masuk ke dalam penjara Guantanamo dibanding masuk ke pusat kebudayaan Amerika. Itu pun jika level sekuriti berlebihan itu tidak dianggap sebagai bagian dari budaya Amerika.

However, saya tak akan melewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari orang-orang pertama yang menyaksikan film dokumenter hiphop pertama di negara ini, jadi saya merelakan diri untuk repot-repot mengosongkan isi kantong saya di depan detektor logam.

Saya tak ingat kapan terakhir kali datang ke acara yang dibuat oleh komunitas hiphop lokal. Sejak Manifestone, grup hiphop hebat yang tak pernah ada itu berkabut nasibnya, berada dalam sleep mode, rasanya saya tercerabut dari berbagai aktivitas kalangan hiphop Indonesia. Senang rasanya kembali menyaksikan kawan-kawan beraksi di atas panggung dan yang lebih membanggakan lagi tentu saja menyaksikan BlackBook.

Film ini mendokumentasikan perjalanan hiphop di Indonesia dari sejak zaman Iwa K hingga sekarang. Anda bisa menyaksikan bagaimana para punggawa Guest Music melakukan napak tilas memori tentang bagaimana dulu mereka membentuk Iwa K sebagai pionir rap di Indonesia. Demikian juga dengan orang-orang di balik Pesta Rap, album kompilasi yang bersejarah itu. Berbagai ingatan masa kecil kembali terlintas saat menyaksikan video klip lawas dari Black Skin dan Blake diputar.

Dalam BlackBook anda juga bisa melihat berbagai interview yang dilakukan dengan para legenda hiphop Indonesia. Anda bisa melihat bagaimana perjuangan Erik dan Doyz dulu membangun Black Kumuh – nama yang menurut Erik berasal dari pengalaman mereka dulu manggung di Blok M dengan sandal jepit dan wardrobe pinjaman dari Matahari dan Borobudur. Anda bisa melihat video rekaman Black Skin manggung di Tanamur, Tanah Abang, tempat yang saya sendiri tak tahu itu apa, tapi dari gambarnya terlihat ghetto sekali.

Kekuatan yang paling mencolok dari BlackBook ini adalah betapa banyaknya dokumentasi yang dimiliki sebagai landmark dari pergerakan hiphop di Indonesia. Nampaknya Ferri Yuniardo, orang di balik BlackBook yang juga setengah dari duo Sweet Martabak yang legendaris itu, mempunyai visi dari dulu bahwa kelak dirinya akan membuat film dokumenter hiphop.

Anda bisa menyaksikan berbagai rekaman dari zaman Ground Zero dulu hingga berbagai festival hiphop yang marak di awal milenium. Juga klarifikasi soal apa yang sebenarnya mendasari feud ”Hiphop sudah mati” antara Homicide dan Xcalibour yang masih menjadi buah bibir kalangan hiphop Indonesia sampai sekarang. Satu yang tak ingin anda lewatkan adalah penampilan perdana Saykoji tahun 2000 yang kala itu lebih mirip dengan Raben dibanding dirinya sekarang.

Secara umum, BlackBook menyajikan cerita dan insights dari berbagai kalangan hiphop Indonesia. Dari Yacko, Xaqhala, Wisha, Mizta D, Soul ID hingga Ucok Homicide, semuanya memberikan tanggapannya tentang budaya hiphop Indonesia. Dan masih banyak nama-nama lain yang saya tak ingat untuk disebutkan satu per satu.

Yang unik dari film BlackBook ini dalam bentuk penyajian adalah ketiadaan narator yang memandu penonton untuk memahami alur cerita. Sebelum acara, John Parapat – yang mengaku belum menonton filmnya sebelumnya, tapi saya tak yakin ia sedang berkata jujur. hehe – mengatakan bahwa film ini tidak memiliki plot. Jika ada alur cerita yang terlihat dalam perkembangannya, itu sama sekali tidak direncanakan.

Tapi ketiadaan narator malah menyebabkan narasi film menjadi lebih leluasa, tanpa batas. Footage dan interview yang dilakukan dengan sendirinya menjadi pemandu bagi ke arah mana alur ”cerita” film ini akan dibawa. Konsekuensinya memang proses penyampaiannya terkesan berlompat-lompat, tapi itu menjadi keseruan sendiri dalam dalam konteks hiphop, di mana kultur ”freestyle” menjadi kebanggaan.

Ferri sendiri mengatakan bahwa belum ada rencana untuk mendistribusikan film ini dalam bentuk DVD. Ia menjelaskan bahwa fokus utamanya adalah melakukan screening film ini ke daerah-daerah yang dikombinasikan dengan acara komunitas hiphop setempat. Tentu ia memiliki pertimbangan tersendiri walaupun saya pribadi mengganggap bahwa karena BlackBook ini adalah sebuah dokumentasi sejarah yang luar biasa, maka exposure yang seluas-luasnya dibutuhkan untuk penyebarannya.

Saya teringat beberapa tahun lalu seorang kawan dari Belgia menanyakan di mana ia bisa mencari referensi dan dokumentasi budaya hiphop di Indonesia. Saya tak bisa menjawab, karena kalaupun memang ada kala itu, keberadaannya tak diketahui. Sekarang, jika ada yang memberi pertanyaan serupa, saya akan menjawab bahwa sekarang kita punya BlackBook, film dokumenter hiphop Indonesia.


Ingatan pekat yang tak lekang

Terpaksa terdorong lari lintang pukang

Saat tempatnya yang teguh dalam korteks

Menemukan pengganti superior secara konteks


Tak ayal ku merasa, jika semesta dalam jiwa adalah pesta dansa, maka kamu adalah primadona.

Ini bukan obituari. Ini bukan serenada selamat tinggal. Ini hanyalah penanda pergantian babak dalam sebuah drama.

Saat Pandji Pragiwaksono melemparkan idenya untuk membuat acara televisi bertemakan edukasi politik, saya sontak berpikir, “hell yeah”. Selain siaran sepakbola, praktis saya tak pernah menonton acara televisi Indonesia. Soal kualitas, anda bisa menilai sendiri, tapi tak satu pun yang menggerakkan keinginan saya untuk duduk terpaku di depan layar datar. Tak pernah terbersit sekali pun cita-cita untuk membuat karya yang berhubungan dengan televisi.

Yang menyebabkan saya menyambut hangat ide Pandji adalah semangat dan tema dari program TV yang sedang digagas ini. Jika Pandji datang dengan ide membuat acara komedi semata atau acara program musik pagi, sudah pasti gagasan itu akan saya tampik.

Saya tak tertarik dengan televisi meski sadar bahwa wilayah jangkauan televisi sebagai media massa relatif lebih besar dibanding media lainnya. Pendidikan politik menjadi concern saya dan saat televisi bisa dipakai sebagai saluran penyampaian ide, termasuk dengan segala keterbatasan dan banalitasnya, maka saya mengangguk setuju.

Program TV kami itu, Provocative Proactive, menyasar audiens berusia muda, sama seperti usia rata-rata anggota tim kami. Mengapa kami berpikir bahwa anak muda Indonesia pada umumnya membutuhkan pendidikan politik? Karena mayoritas dari kita dididik untuk apatis terhadap politik.

Kita dibesarkan dalam sebuah struktur di mana ketidaktahuan adalah keniscayaan. Kita dianjurkan menelan semua tanpa protes dan semakin dikit yang dipertanyakan semakin bagus. Kita dikondisikan menjadi penonton dalam sebuah teater negara di mana penonton tak bisa meminta uangnya kembali jika para pelakon bermain buruk.

Kami menolak.

Tapi kami hanya serpihan kecil dari anak muda Indonesia yang begitu banyak sehingga kami berasa bertanggungjawab untuk membangunkan rekan-rekan kami yang tertidur. Saya sadar bahwa tim kami memiliki privilege berupa terpaan media dan akses terhadap informasi yang lebih sehingga untuk menyamaratakan semua golongan anak muda sungguh tidak adil. Berangkat dari keinginan untuk berbagi itulah Provocative Proactive bergerak.

Selama 1,5 tahun program ini berjalan, masukan yang paling sering saya terima, terutama dari teman-teman yang tergolong cendekiawan, adalah betapa rendahnya tingkat kedalaman informasi dan analisa yang kami berikan, sesuatu yang tak terbantahkan. Tapi satu hal yang sering luput dari perhatian adalah betapa program ini memang diposisikan sebagai sarana pendidikan politik elementer bagi mereka yang awam sama sekali tentang politik.

Mustahil untuk mencekoki penonton televisi dengan berbagai materi politik mendalam saat mereka bahkan tidak tahu Marzuki Alie itu siapa, atau menyajikan analisa mendalam soal berbagai program legislasi DPR saat mayoritas audiens bahkan tidak ingat siapa yang mereka pilih saat Pemilu kemarin.

Dengan segala hormat bagi teman-teman cendekiawan, Provocative Proactive memang terlalu cetek untuk menjadi santapan. Kalian membaca berbagai literatur politik kelas berat, punya akses terhadap jurnal-jurnal ilmiah, dan terhubung ke berbagai saluran informasi tanpa batas. Kalian tak butuh program TV untuk memberitahu apa yang sedang terjadi di negara ini J

Tapi bayangkanlah mereka yang saluran informasi primernya adalah televisi, yang tak seberuntung itu untuk bisa mendapatkan berbagai pengayaan informasi dari sumber-sumber yang lebih mendalam. Dan jumlah mereka lebih banyak. Itulah kalangan yang ingin kami sasar.

Kami tak ingin hidup dalam menara gading, masturbasi intelektualitas setiap hari sembari menutup mata terhadap tingkat kesadaran orang-orang di sekitar. Jika kita hendak bangkit, maka kita bangkit bersama.

Objektivitas program kami kerap dipertanyakan dan biarkan saya menegaskan kali ini bahwa kami 100 % subjektif dengan agenda pendidikan yang kami usung sendiri. Meski pun begitu, program kami tidak berafiliasi pada partai dan organisasi politik mana pun, tak juga kepada lembaga politik yang identik dengan stasiun televisi tempat kami bernaung.

Kami tidak netral karena kami berpihak pada kebenaran. Mudah-mudahan apa yang menjadi acuan kebenaran bagi kami selama ini juga konsensus kebenaran yang sama bagi kebanyakan orang.

Provocative Proactive mungkin akan berhenti sebagai sebuah program TV, tapi saya meyakinkan anda bahwa ini bukan terakhir kali anda mendengar sesuautu dari kami. Provocative Proactive bukan program TV semata, ini adalah sebuah gerakan kesadaran politik. Jika TV tak lagi menjadi medium penyampaian gagasan kami, maka kami akan menemukan medium lainnya.

Untuk orang-orang yang dengannya saya bekerja keras bahu membahu dalam Provocative Proactive TV show dalam 1,5 tahun terakhir, perkenankanlah saya memberikan salam hormat bagi kawan sekalian:

Pandji Pragiwaksono, Joshua Matulessy, Ronal Surapradja, Raditya Dika, Andari Agustien, Andibachtiar Yusuf, Naufal Fileindi, Iman Sjafei, Shani Budi Pandita, Khamila Sari Mulia, Aira Syafei, Farah Nurul, Dhita Larasati, Luthfian Iriana, Syaza Luthfani Udyaputri, Disna Harvens, Muhajjir Esyaputra, Esha Mahendra, Choky Ramadhan, Larasati Septani.

Kami tak akan berhenti.